top of page
Tuesday-Louder-3.jpg

Photo by Basuki

Muhibah #1 - AKSARA

A Residency Project

June 1st - 30th 2026
Kedai Kebun Forum (KKF), Jogjakarta

KKF Logo.png
abdw_white-removebg-preview.png

主办方 Host

Kedai Kebun Forum (KKF)

合作者 Collaborators

ABDW Art Project
Lumbung Kawruh
Nomore Gallery
Tuesday Louder

Lumbung-Kawruh.png
nomore gallery.jpeg
Tuesday Louder.jpeg

导师 Advisor

Agung Kurniawan, Rismilliana, Gan Siong King

特别鸣谢 Special Thanks

Yustina Neni
Rolly LoveHateLove
Agus Baqul

Dedy Sufriadi
Farhansiki
Basuki

项目计划书 Project Proposal (PDF - 3 MB)

相关链接 Related Links

Chia-Koon-X-Rumah-Rambat--COVER.jpg

Tentang Proyek / 关于项目 / About

Asia Tenggara adalah kawasan yang dulu dikenal dengan nama Nanyang, Swarnadwipa atau Nusantara sesungguhnya adalah wilayah yang terkait satu sama lain. Memiliki kesamaan yang menyiratkan adanya kesamaan asal usul dan nenek moyang. Juga sejak ribuan lalu bersifat kosmopolit. Semata karena wilayah ini adalah daerah pertemuan para saudagar dan pelaut untuk mencari, pala, cengkih, kemiri, menyan dan kapur barus. Datangnya kolonialisme membuat rasa dan sifat muhibah itu lenyap. Segregasi sosial berdasar ras, wilayah dan suku menjadi metode kulit putih untuk memandang bangsa kulit coklat secara telak menciptakan jurang dalam yang malangnya sampai kini masih sangat sulit diseberangi.

Dalam konteks segregasi inilah seni, kesenian dan seniman mempunyai peran. Oleh karena penggunaan bahasa visual sebagai lingua franca yang memendekkan jarak. Juga menjadi jembatan pelintas batas yang sangat penting.

Proyek muhibah pertama ini akan dimulai dari aksara. Sebuah konstruksi sosial yang meng"asing"kan bangsa banga di nusantara. Aksara dijadikan titik tolak untuk mulai melihat perbedaan yang mewujud lewat huruf dan bagaimana huruf itu ditorehkan. Benarkah, seperti selama ini kita duga, ia memisahkan. Ataukah sebaliknya. Menyatukan meski dalam struktur dan kerangka sosial-nya masing-masing.​

Chia Koon sebagai seniman kaligrafi cina menawarkan metodenya untuk dipakai sebagai platform untuk menjangkau dan meraih identitas yang selama ini seolah memisahkan kita.

 

Agung Kurniawan

Direktur Artistik | KKF

Wijilan-2.jpg

Photo by Basuki

20260627_161232.jpg

Teks Tembok Pangkur Pamuji / Pangkur Pamuji 展墙文字 / Pangkur Pamuji Wall Text

Pangkur Pamuji

​Kêpungkur adrênging karsa,
arsaning tyas antuk sarana jati,
bêrsik raga lan roh-ipun,
nyênyuwun myang Hyang Suksma,
mêdhar pangrèh pangulah rasaning kalbu,
kang lumêngkêt anêng jiwa,
mrasuk sarandhuning dhiri.

Rumasuk rênaning prana,
kalaraban nugrahaning Tuwan Gusti,
paripurna ulah laku,
sanggya pra pamong rupa,
among-mongi sarwa palakarya iku,
ngêdalaké sêsajènnya,
pagêlaranira sami.

Dalam balutan kebahagiaan hati,
gembira penuh semangat memasuki ruang-gelar ini,
adapun kuas dan cat/warnanya,
bagai pohon dan air,
(dalam) meraih kelestarian daya hidup ilmu pengetahuan,
(karena) air adalah kaca benggala,
(bagi) kesucian manusia sungguh.

​Bakaran menyan mengepul-lah,
membubunglah ke tawang penuh kasih,
menyingkirkan kegelapan,
melahirkan air kehidupan,
mengalirlah menjadikan ketentraman kemakmuran,
subur kebun dan pekarangan kreatifnya,
(Ini) doa-puji (kami).

Palowiji (tanaman pertama) dan palawija (tanaman kedua),
padi kacang jagung,
palasampar (buah darat) dan palagantung (buah gantung),
ditumpuk palakirna (buah menahun),
palapendhem (buah terpendam) tanda kasih tetanah,
hasil berolah rupa,
(begitulah) gambaran (mereka) menerangkan dirinya.

Semoga kebun dan pekarangannya,
mendapat anugerah Tuhan,
bertumpuk-tumpuk berlipat ganda,
(tertimpakan) pada kebaikan para pamong bumi (perupa),
selamat terhindar dari segala bahaya,
para warga di berbagai wilayah,
memiliki kemuliaan lebih.​

IMG_20260616_164307-Banner.jpg

Photo by Basuki

Catatan Proses / 创作过程说明 / Process Statement 

Saat belajar melantunkan puisi kuno Indonesia ini, saya terpikat oleh kedalaman sejarah Jawa. Puisi ini bukan lagi sekadar hafalan, melainkan suara hidup yang membawa memori berabad-abad. Sebagai seniman Tionghoa Malaysia yang berkarya dengan tinta dan kaligrafi, saya selalu melihat bahwa tulisan melampaui teks—ia menjaga memori dan identitas. Pertemuan ini memicu refleksi saya tentang penerjemahan: sebuah proses yang tak pernah sempurna, di mana ada yang hilang, berubah, atau justru lahir baru.

Saya memutuskan menerjemahkan puisi ini ke dalam bahasa Mandarin dan menulisnya di atas kertas Xuan. Ini adalah pertemuan dua budaya; puisi lisan Jawa menjelma dalam sistem tulisan Tionghoa, saling merefleksikan diri. Bagi saya, menulis dengan tangan adalah tindakan yang lambat dan khusyuk—sebuah respons pribadi di antara bahasa dan sejarah yang berbeda.

​​

Bekerjasama dengan Pak Rolly dari Nomore Gallery, karya ini kemudian diperbesar menjadi Paste Up raksasa di dinding ruang publik. Beralih dari kertas ke arsitektur kota, karya ini bertransformasi dari pengalaman membaca pribadi menjadi dialog publik di tengah keseharian masyarakat. Sebagai karya terbesar saya, goresan kuas dan ketidaksempurnaan yang terpampang jelas mengingatkan kita bahwa sejarah tidak pernah lestari secara utuh, melainkan terus hidup melalui tafsir baru yang berkelanjutan.

Sebagai bagian dari komunitas Tionghoa Malaysia, saya menaruh perhatian besar pada dialog lintas budaya di Asia Tenggara. Ketika kaligrafi Tionghoa bertemu puisi Jawa, keduanya tidak saling menggantikan, melainkan membuka ruang pemahaman baru. Pada akhirnya, karya ini adalah tentang memori, penerjemahan, dan bagaimana budaya terus bertumbuh melalui pertemuan—menghidupkan kembali suara masa lalu di ruang kota modern melalui tinta, kertas, dan dinding publik.

 

Ong Chia Koon

​​

CK-1.jpg

Photo by Basuki

1 / 6

Arrival at YIA. Check-in Omah Kebon

2 / 6

Studio time

3 / 6

Coordination meeting with Agung Kurniawan, Ries and Basuki

4 / 6

Introduction Presentation at Kedai Kebun Forum (KKF)

5 / 6

Studio visit - Dedy Sufriadi

6 / 6

Studio visit - Agus Baqul

7 / 6

Studio time

8 / 6

Gallery visit - Sangkring Art Space

9 / 6

Site Visit - Nomore Gallery

10 / 6

Studio Visit - Farhansiki

11 / 6

Studio time

12 / 6

Studio Stay - ABDW Art Project, Gunung Kidul

13 / 6

Studio Stay - ABDW Art Project, Gunung Kidul

14/ 6

Studio Stay & Chinese tea workshop - Lumbung Kawruh, Gunung Kidul

15 / 6

Studio Stay & Chinese calligraphy workshop - Lumbung Kawruh, Gunung Kidul

16 / 6

Studio Stay - Lumbung Kawruh, Gunung Kidul

17 / 6

Studio time

18 / 6

Studio time

19 / 6

'Paste Up Jogja' - Nomore Gallery

20 / 6

Studio time

21 / 6

'Paste Up Jogja' - Nomore Gallery

22 / 6

Visit ArtJog 2026

23 / 6

Performance in collaboration with Tuesday Louder - Nomore Gallery

24 / 6

Studio time

25 / 6

Installing "Pangkur Pamuji" mural at Wijilan

26 / 6

Installing "Pangkur Pamuji " mural at Wijilan

27 / 6

Official opening of "Pangkur Pamuji" mural with Nomore Gallery

28 / 6

Break

29 / 6

Farewell dinner

30 / 6

Departure

Photo by Basuki

  • Facebook
  • Instagram

©2022 王嘉堃 版权所有   ©2022 Ong Chia Koon. All rights reserved.

bottom of page