top of page
IMG-20240520-WA0003.jpg

Muhibah #1 - AKSARA

A Residency Project

1st - 30th June 2026
Kedai Kebun Forum (KKF), Jogjakarta

相关链接 Related Links

Tentang Proyek / 关于项目 / About

Asia Tenggara adalah kawasan yang dulu dikenal dengan nama Nanyang, Swarnadwipa atau Nusantara sesungguhnya adalah wilayah yang terkait satu sama lain. Memiliki kesamaan yang menyiratkan adanya kesamaan asal usul dan nenek moyang. Juga sejak ribuan lalu bersifat kosmopolit. Semata karena wilayah ini adalah daerah pertemuan para saudagar dan pelaut untuk mencari, pala, cengkih, kemiri, menyan dan kapur barus. Datangnya kolonialisme membuat rasa dan sifat muhibah itu lenyap. Segregasi sosial berdasar ras, wilayah dan suku menjadi metode kulit putih untuk memandang bangsa kulit coklat secara telak menciptakan jurang dalam yang malangnya sampai kini masih sangat sulit diseberangi.

Dalam konteks segregasi inilah seni, kesenian dan seniman mempunyai peran. Oleh karena penggunaan bahasa visual sebagai lingua franca yang memendekkan jarak. Juga menjadi jembatan pelintas batas yang sangat penting.

Proyek muhibah pertama ini akan dimulai dari aksara. Sebuah konstruksi sosial yang meng"asing"kan bangsa banga di nusantara. Aksara dijadikan titik tolak untuk mulai melihat perbedaan yang mewujud lewat huruf dan bagaimana huruf itu ditorehkan. Benarkah, seperti selama ini kita duga, ia memisahkan. Ataukah sebaliknya. Menyatukan meski dalam struktur dan kerangka sosial-nya masing-masing.​

Chia Koon sebagai seniman kaligrafi cina menawarkan metodenya untuk dipakai sebagai platform untuk
menjangkau dan meraih identitas yang selama ini seolah memisahkan kita.

 

Agung Kurniawan

(Direktur Artistik)

Kedai Kebun Forum (KKF)

Chia-Koon-2.jpg

Catatan Proses / 创作过程说明 / Process Statement 

Saat belajar melantunkan puisi kuno Indonesia ini, saya terpikat oleh kedalaman sejarah Jawa. Puisi ini bukan lagi sekadar hafalan, melainkan suara hidup yang membawa memori berabad-abad. Sebagai seniman Tionghoa Malaysia yang berkarya dengan tinta dan kaligrafi, saya selalu melihat bahwa tulisan melampaui teks—ia menjaga memori dan identitas. Pertemuan ini memicu refleksi saya tentang penerjemahan: sebuah proses yang tak pernah sempurna, di mana ada yang hilang, berubah, atau justru lahir baru.

Saya memutuskan menerjemahkan puisi ini ke dalam bahasa Mandarin dan menulisnya di atas kertas Xuan. Ini adalah pertemuan dua budaya; puisi lisan Jawa menjelma dalam sistem tulisan Tionghoa, saling merefleksikan diri. Bagi saya, menulis dengan tangan adalah tindakan yang lambat dan khusyuk—sebuah respons pribadi di antara bahasa dan sejarah yang berbeda.

Bekerjasama dengan Pak Rolly dari Nomore Gallery, karya ini kemudian diperbesar menjadi Paste Up raksasa di dinding ruang publik. Beralih dari kertas ke arsitektur kota, karya ini bertransformasi dari pengalaman membaca pribadi menjadi dialog publik di tengah keseharian masyarakat. Sebagai karya terbesar saya, goresan kuas dan ketidaksempurnaan yang terpampang jelas mengingatkan kita bahwa sejarah tidak pernah lestari secara utuh, melainkan terus hidup melalui tafsir baru yang berkelanjutan.

Sebagai bagian dari komunitas Tionghoa Malaysia, saya menaruh perhatian besar pada dialog lintas budaya di Asia Tenggara. Ketika kaligrafi Tionghoa bertemu puisi Jawa, keduanya tidak saling menggantikan, melainkan membuka ruang pemahaman baru. Pada akhirnya, karya ini adalah tentang memori, penerjemahan, dan bagaimana budaya terus bertumbuh melalui pertemuan—menghidupkan kembali suara masa lalu di ruang kota modern melalui tinta, kertas, dan dinding publik.

 

Ong Chia Koon

STROKE-Installation.jpg
bottom of page